Bensin Baru Pertalite Turbo, Fenomena RON dan MON

  • Bagikan

Sahabat-Otomotif.Com – Dingat dulu bahwa tidak ada pantangan mencampur aneka jenis bensin. Yang ada itu muncul pantangan mencampur aneka jenis oli di mesin, karena besar molekulnya bisa beda-beda.

Namun kenapa, produk oli murah hasil refining (pemurnian kembali) oli yang berasal dari aneka jenis oli kemudian dijual di pasaran? Kenapa juga pabrik melakukan refining oli demi menghemat biaya? Artinya pantangan mencampur oli tidak terlalu fatal sampai merusak mesin dalam jangka waktu pendek. Berarti hukumnya bisa dikatakan “seyogianya jangan,” lebih baik beli oli baru.

Namun kita tidak akan membahas oli. Tapi membahas tentang mencampur bensin. Ada ramai sekarang orang mencampur bensin Pertamax Turbo dan bensin Pertalite. Karena dinilai bisa dapat bensin lebih baik untuk motor Jepangan rakit Indo, dengan harga lebih murah.

Jika kita mencampur Pertalite dan Pertamax Turbo, maka berikut ini hitungan kasarnya.

Peralite RON 90 + Pertamax Turbo RON 98 = 90 + 98 = 188/2 = RON 94

Secara mutu angka oktan atau RON jadi di atas Petamax 92.

Dari perhitungan harga di DKI Jakarta misalnya:

Pertalite Rp 7.650 + Pertamax Turbo Rp 9.850 = Rp 17.500/2 = Rp 8.750 per liter.

Jadi dapatlah Pertalite-Turbo 94 alias dapat lebih tinggi dibanding Pertamax 92.

Tapi tahukah kalian, bahwa bensinnya orang “barat” berpatokan pada MON bukan RON? RON itu adalah research octan number. Sementara MON adalah motor octane number.

RON, Jenis peringkat oktan yang paling umum di seluruh dunia adalah Research Octane Number (RON). RON ditentukan dengan menjalankan bahan bakar dalam mesin uji dengan rasio kompresi variabel di bawah kondisi terkontrol, dan membandingkan hasilnya dengan campuran iso-oktana dan n-heptana. Rasio kompresi divariasikan selama pengujian untuk melawan kecenderungan antiknocking bahan bakar karena peningkatan rasio kompresi akan meningkatkan kemungkinan knocking.

MON, jenis peringkat oktan lainnya, yang disebut Motor Octane Number (MON), ditentukan pada putaran mesin 900 rpm, bukan 600 rpm untuk RON. Pengujian MON menggunakan mesin uji yang serupa dengan yang digunakan dalam pengujian RON, tetapi dengan campuran bahan bakar yang dipanaskan terlebih dahulu, kecepatan mesin yang lebih tinggi, dan waktu pengapian variabel untuk lebih menekankan ketahanan ketukan bahan bakar. Tergantung pada komposisi bahan bakarnya, MON dari pompa bensin modern akan sekitar 8 sampai 12 oktan lebih rendah dari RON, tetapi tidak ada hubungan langsung antara RON dan MON. Spesifikasi pompa bensin biasanya membutuhkan RON minimum dan MON minimum.

Apakah hasilnya? Hasilnya, karena barat meriset pakai patokan MON. Maka dihasilkan bensin yang efisien. Saat mesin berkitir di rpm rendah bisa galak akselerasi. Saat mesin berkitir di rpm tinggi bisa juga galak topspeed. Dan karena setiap rentang rpm tepat guna, maka konsumsi BBM tetap irit.

Adakah yang peka? Jika pakai bensin tanah air misalnya Pertamax 92 di motor akan terasa akselerasi lebih lemah tapi untuk rpm tinggi dan menggapai topspeed lebih jago. Nah, itulah kelemahan riset bensin dengan berpatokan pada RON. Kurang efisien di putaran mesin rendah.

Itulah alasan orang-orang mencampur bensin antara RON tinggi dan RON rendah. Karena bisa memperbaiki akselerasi rpm rendah, dan tetap bagus di rpm tinggi untuk menggapai topspeed.

Ada solusi lain, yakni mencampur bensin buatan tanah air dengan bensin “barat” dengan nilai oktan yang sama atau mirip.

Misalnya Pertamax 92 misalnya Super 92 atau Mobil 92. Cukup bensin “barat” dikasih porsi sedikit, karena mereka jual lebih mahal. Misal Pertamax 3 liter dan Mobil 1 liter di fulltank bebek. Maka itu sudah memberikan galak aksel dan galak topspeed. Dan bensin lebih irit. (yy/dari berbagai sumber)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *