Diaz Rizaldi Modif Kendaraan Antar Galon jadi Mirip Jeep Willys 1944

  • Bagikan
HASIL KREATIVITAS: Diaz Rizaldi memamerkan Viar Karya 200 cc yang disulap bak Jeep Willys 1944 di Bengkel Route66 miliknya. (Alfian Rizal/Jawa Pos)

Sahabat-otomotif.com – Tren modifikasi mobil kian beragam. Bagi pencinta mobil kuno, restorasi dan replikasi bisa menjadi solusi ketika isi dompet sedang cekak untuk biaya hobi. Hobi itu lantas melahirkan modifikator-modifikator kreatif yang bekerja dalam industri rumahan di Surabaya.

BENGKEL itu cukup tersembunyi. Berjejer di antara tempat-tempat pengepulan sampah plastik di kawasan Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya. Dari fasad depan, bengkel yang dibangun dari bata dan seng itu terlihat sangat biasa dan ditandai logo Route66 Garage. Di dalamnya, beberapa mobil sedang dikerjakan para pegawai bengkel. Semua kendaraan bertema kuno dan klasik.

Salah satu yang menarik perhatian adalah motor Viar Karya 200 cc. Kendaraan roda tiga yang biasanya dipakai untuk mengantar galon dan elpiji ke rumah-rumah tersebut disulap mirip Jeep Willys 1944. Kendaraan itu biasa dipakai tentara AS saat Perang Dunia era 1940-an.

Diaz Rizaldi, sang pemilik bengkel, mengatakan baru saja selesai mengerjakan Jeep Willys 1944 ala-ala itu. ’’Saya bikin ini karena ada di TV. Sekarang sudah ndak ada,” ujarnya. Dia lantas memperlihatkan Jeep hasil replika itu. Mulai bodi, ban, sasis, jok, hingga setir, semuanya berbeda. Hanya mesinnya yang masih menggunakan mesin Viar. Diaz lantas mengeluarkan motor setengah mobil itu dari bengkel.

Dia memperhatikan bodi kendaraan yang dibalut cat hijau army itu. Stiker ’’US Army” menambah kekhasan kendaraan yang dia kerjakan bermodal motor bekas tersebut. Jeep Willys hasil karyanya dikerjakan dengan modal Rp 40 juta. Perinciannya, Rp 15 juta digunakan untuk membeli motor, sisanya untuk membeli suku cadang.

Harga spare part untuk replika mobil kuno memang mahal. Mencarinya pun susah. Terkadang Diaz harus mencarinya ke luar negeri. Dia juga pernah membuatnya sendiri. Beruntung, dia mempunyai pekerja yang andal untuk urusan itu. ’’Untung juga sekarang sudah bisa membeli parts secara online.

Kadang kita juga cari-cari info di grup-grup Facebook, nanti biasanya ada yang info si A punya kenalan si B, bisa membantu kalau susah cari parts,” kata Diaz sambil menaiki Jeep Willys hasil replika miliknya. Rencananya, dia menjual kendaraan itu seharga Rp 65 juta.
Kendaraan replika memang kian marak dalam beberapa tahun terakhir. Sebab, peminat mobil kuno semakin banyak. Mobil kuno disukai bukan hanya karena model, kelangkaan, dan keunikannya. Mobil kuno juga disukai lantaran mempunyai nilai investasi. Misalnya, Chevrolet Bell Air 1957 yang dulu hanya puluhan juta rupiah, sekarang harganya menjulang hingga Rp 600 jutaan. Lalu, VW Kodok 1961 yang dulu hanya Rp 10 jutaan kini menjadi Rp 100 jutaan.

Mobil replika pun dibuat sebagai substitusi mobil kuno ketika penghobi otomotif tidak mampu memiliki mobil yang asli. Sebab, harganya mahal dan pabriknya tidak lagi memproduksi. Mobil replika pun menjadi solusinya. ’’Kolektor mobil itu kan pada dasarnya ada rasa senang dan bangga. Senang kalau mobilnya dipamerkan, senang kalau mobilnya difoto orang-orang karena unik. Jadi ya mereka beli mobil replika biar senang, hahaha,” tambah Diaz.

Dari kebutuhan akan mobil kuno ala-ala itu, lahirlah seniman-seniman di bidang otomotif seperti Diaz. Dia menggeluti dunia restorasi dan otomotif sejak 2000. Jadi, ketika kini lebih fokus menggeluti dunia replika, dia tak sulit beradaptasi. Sebab, dia sudah terbiasa belajar merestorasi Vespa sejak zaman kuliah di Jurusan Psikologi Universitas Airlangga bertahun-tahun silam. Belajar mereplikasi mobil tak begitu sulit bagi Diaz.

Kepuasan dalam merestorasi dan mereplikasi mobil tak hanya dirasakannya sendiri. Diaz juga ikut senang ketika hasil karyanya bisa membuat orang lain senang. Contohnya, ketika dia merestorasi Dodge Dart 1963. Mobil itu dibawa ke bengkel Diaz pada 2015 dalam kondisi yang buruk, tapi masih bisa mengaspal. Mobil tersebut menyimpan memori akan kisah bersama ayah sang pemiliknya.

Sang klien itu bilang, dulu dia sering jalan-jalan bersama ayahnya naik mobil tersebut. Ketika ayahnya tiada, dia ingin mengenang kembali sosok sang ayah lewat Dodge Dart yang direstorasi, persis ketika sang klien dulu masih kecil. ’’Pengerjaannya cukup susah waktu itu. Saya lama di pengecatan dan pemilihan interior karena harus benar-benar mirip sama yang asli. Untungnya, orang itu puas dan senang melihat aslinya karena sangat mirip dengan mobil ayahnya dulu,” papar Diaz yang kemudian menyunggingkan senyum bangga. Dia lantas memamerkan foto-foto mobil Dodge yang pernah direstorasinya.

Dalam perjalanannya menjadi modifikator mobil, Diaz tak selalu beruntung. Beberapa kali dia merugi. Dulu misalnya, dia mereplikasi Chevrolet Hot Rod 1939. Dia menggunakan bahan Toyota Corona 1977. Diaz mengerjakan mobil replika itu selama setahun. Ketika ada orang yang mau membeli, dia ditawari barter dengan Harley- Davidson plus rangka Chevrolet tua. Nilainya setara Rp 250 juta. Saat itu, Harley-Davidson belum berada di tangan. Hanya rongsokan besi Chevrolet yang dia terima. Namun, mobil replika milik Diaz sudah diberikan kepada pembeli. Sayang, dia tak menerima Harley-Davidson yang dijanjikan.

Pernah juga, dia didatangi preman yang memaksa menarik mobil kliennya lantaran tak puas atas hasil kerjanya. Klien itu tak melunasi janji pembayarannya. Padahal, semestinya klien tersebut tinggal bilang kekurangannya di mana agar Diaz bisa memperbaikinya. ’’Yah begitulah. Kan rugi jadinya kita kerja,” papar ayah satu anak itu.

Ketika mengerjakan restorasi maupun replikasi, waktu adalah modal utama bagi Diaz. Pria 46 tahun tersebut selalu berusaha untuk tidak membuang-buang waktu. ’’Waktu itu sama dengan uang. Uang sama dengan harga. Makin detail pengerjaannya, makin butuh banyak waktu, makin mahal harganya,” tandas suami Made Ayu Dini itu.(jawapos)

  • Bagikan