Penjelasan Bahasa Awam Remap ECU, Injeksi Ngacir

  • Bagikan
Sahabat-Otomotif.Com – Mesin motor atau mobil yang sistem semprotan bensinnya tipe injeksi (suntik) saat ini sudah diatur secara elektronik oleh micro komputer. Dalam dunia bengkel disebut ECU atau electronic control unit. Di dalam ECU ada software isinya pemetaan (Map) dia harus ngapain saja kerjanya. Nah, untuk membuatnya bekerja lebih keras dan rajin maka dilakukan Re-Map (pemetaan ulang) ECU.
Itu pakai alat pencuci otak ECU yang sekarang sudah banyak barang tiruannya. Di Online Shop ada yang jual harganya Rp 2-3 juta, buatan negeri oriental. Dan mungkin ada yang puluhan juta karena katanya buatan Italia. Coba cari di online shop alat remap ECU.
Karena alatnya mahal, user tak perlu beli. Cukup cari bengkel-bengkel yang punya alatnya. Dan tentunya sudah tahu seluk beluk pemrogramannya.
Nanti ECU bawaan pabrik akan diburning ulang layaknya era VCD bajakan. Awalnya lagu melow, diisi ulang lagu disko. Awalnya ECU jinak, diubah jadi ECU jingkrak. Lalu, apa saja sih yang diubah selama Remap ECU, admin coba rangkum dalam bahasa awam.
1. Batas Putaran Mesin Diubah Lebih Tinggi.
Sering kita lihat panel instrumen ada speedometer dan sebelahnya ada Tachometer. Di motor sport tertera 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13 dan x1000 r/min. Itu menunjukkan putaran mesin yang diraih.
Biasanya motor sport standar lokal indonesia 1 silinder putaran mesin maksimal 10-11 x1000 r/min yang berarti 10.000-11.000 rpm (revolusi per menit).
Nah, dengan remap ECU batas itu dilabrak. Biasanya jadi sesuai yang tertera di speedometer. Misal batasnya angka tertera 13 tapi bawaan pabrik hanya angka 10 (kenyataan). Diubah benar-benar bisa dapat angka 13 x1000 r/min.
Karena ada rumus:
Power (HP) = torque (lbf. ft) x rotational speed (RPM) / 5252
artinya semakin tinggi putaran mesin (rpm) maka semakin besar power yang terkail.
2. Stel Boros Bensin
Memang secara ilmu sebab-akibat mesin yang setting suplai bensin boros akan meningkat performanya. Hal itu sudah diuji dan dicatat dalam dunia injeksi menjadi sebuah patokan.
Untuk dunia bensin atau gasoline kesetimbangan pembakaran agar api bisa menyala sempurna disebut stoichiometric mixture ratio di 14,7:1.
Artinya 1 molekul bensin kawin dengan 14,7 molekul oksigen. Penghulu perkawinan disebut titik api.
Nah, masih dalam ilmu pembakaran internal mesin ternyata kalau bensin diperbanyak, maka ledakan ruang bakar bisa lebih dahsyat. Ada patokan bahwa rasio 13:1 adalah yang paling bertenaga.
Artinya 1 molekul bensin kawin dengan 13 molekul udara.
Jadi saat Remap, seakan-akan ada ralat perintah pada ECU agar selalu menyediakan suplai bensin dan udara dengan rasio 13:1. Di dunia balap biasanya dites dengan AFR meter, apakah perintah itu dijalankan ECU dengan baik. Jika belum bisa, jadi ada part-part yang butuh diseting ulang atau diganti agar tidak menghambat kinerja ECU.
3. Busi Dinyalakan Lebih Prematur dari Biasanya
Dalam dunia pembakaran internal mesin, busi sebagai korek api mesin dinyalakan lebih awal/prematur. Sesaat sebelum engkol penggenjot mencapai titik mati atas (TMA). Mengapa? Karena bensin itu butuh waktu sekian milidetik untuk membentuk sebuah bola api ledakan. Jadi agar pas dalam menampar engkol gerak (kruk as) maka disulut lebih awal.
Dunia motor biasa mengenal busi dinyalakan 25°-30° sebelum TMA. Bengkel modifikasi balap lokal biasanya untuk menaikkan performa akan menyeting lebih prematur di 30°-35° sebelum TMA. Bengkel balap yang sudah Nasional biasanya sudah tahu ilmunya agar bisa prematur di 35°-40° sebelum TMA. Sementara bengkel modifikasi yang agak gila di Thailand dan Malaysia suka bermain sangat prematur yakni busi dinyalakan 40°-45° sebelum TMA.
Bengkel Indonesia juga sebenarnya tahu ilmu prematur 40-45 itu. Tapi tahu sendiri konsumen Indonesia kalau beli bensin suka nakal. Udah tahu spek balap masih aja diisi pertalite. Jadi daripada bengkel dilabrak karena rusak. Akhirnya dengan sangat sedih bengkel lokal jarang bermain di angka tersebut.
Jika 3 faktor di atas diaplikasikan ke motor injeksi standar. Maka kenaikan tenaga bisa sampai kisaran 7 daya kuda. Misalnya motor 125cc yang 10 daya kuda akan menjadi 17 daya kuda setara 150cc. Namun durabilitas atau ketahanan mesin jadi berkurang umurnya. Biasanya 5 tahun overhaul, karena diupgrade jadi 3 tahun overhaul. Lah, cepet rusak, dilabrak lagi bengkelnya? Mending tidur saja gak usah upgrade. (yy/dari berbagai sumber)
  • Bagikan