Teknologi Shock Braker Ambles di MotoGP dalam Bahasa Awam

  • Bagikan

Sahabat-Otomotif.Com – Motor 1.000 cc di motoGP terus dikembangkan. Terbaru ada teknologi Holeshot untuk membantu akselerasi bisa stabil dan saat belok tidak gampang tergelincir dan ndlosor. Namun peraturan MotoGP alat semacam ini tidak boleh elektronik dan tidak boleh otomatis. Akhirnya holeshot dibuatkan triger seperti pada senjata api dan mekanismenya hidrolik atau pnumatik.

Namun terlebih dahulu sebagai admin berusaha menyelami mengapa itu perlu. Dalam dunia shock braker atau peredam kejut memang ada dilema. Saat ngebut lurus pasti akan terasa ada aspal bergelombang sehingga perlu pegas dan bantalan (damper) yang bisa bermain “njut-njutan” naik turun yang cepat (fast rebound) atau kadang lambat (slow rebound) demi menyesuaikan kontur jalan agar motor tidak terbang. Gerakan naik turunnya pun kudu agak panjang (long travel) biar gak jedak-jeduk seperti metik dinaiki 4 orang.

Nah, sudah jago di trek lurus dan bisa 360 km/jam. Ternyata setingan begitu membuat masalah saat start dan belok. Kondisi shock braker yang permainannya sangat lihai dan long travel itu bikin limbung. Saat dibawa belok njut-njutan membuat bagian belakang goyang itik saat digas keluar belokan. Saat start sama, bisa gerak ke kanan kiri roda belakang dan garpu depan terangkat.

Maka diciptakanlah alat Holeshot yang bisa dipencet pembalap saat diperlukan. Saat start holeshot depan dan belakang diaktifkan. Hal itu akan membuat mekanisme pnumatik yakni mengurangi angin pada damper shock braker sehingga shock ambles dan terkunci jadi pendek alias ceper. Motor akan menjadi rigid atau kaku seperti tanpa shock braker. Sehingga saat start, digas tidak gampang ngetril dan tidak limbung.

Kemudian, saat belok, pastinya pembalap ngerem depan dan shock sudah ambles, tak perlu aktifkan tombol holeshot depan. Namun perlu aktifkan holeshot belakang sehingga jadi ceper dan rigid, sehingga saat digas keluar tikungan bisa stabil.

Tombol tentunya dibuat sedemikian rupa sehingga bisa memencet sementara atau memencet dan terkunci. Mekanisme pengembalikan ke posisi semula juga dibuat cepat. Untungnya motoGP saat sudah jalan tak perlu tuas kopling saat pindah gigi, karena sudah transmisi Seamless Shift Gearbox (SSG). Jadi saat jalan itu tangan kiri agak nganggur.

Beberapa pembalap menganggap ini teknologi mengerikan, karena membuat pabrikan yang memiliki mesin superior susah disalip. Kecuali, bannya aus lebih dulu saat balapan. Jadi kunci kemenangan di MotoGP salah satunya adalah pembalap pandai menghemat ban. (yy/dari berbagai sumber)

  • Bagikan